Arsip Kategori: Kisah Hikmah

Penghapus Dosa

بسم الله الرحمن الرحيم

قل رسل الله صلى الله عليه وسلم

“ُمَا يُصِيْبُ المُسْلِمْ مِنْ نَصَبٍ وَ ﻻَ وَصَبٍ وَﻻَ هَمٍ وَﻻَ حُزْنٍ وَﻻَ أَذَىْ وَلاَ غَمٍ حَتَى الشَوْكَةُ يُشَاكِهَا اِﻻَ كَفَرَ الله بِهَا مِنْ خَطَأ يَاه”

( روح البخاري والمسلم )

Bersabda RosuluLLAHi SAW:

” Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu Kelelahan, atau Penyakit, atau Kekhawatiran, atau Kesedihan, atau Gangguan, bahkan Duri yg melukainnya melainkan الله akan menghapus Kesalahan-kesalahannya karenanya”.

HR. Buckhori dan Muslim.

 

We Love Al-Wafa’

Husnudhon

بسم الله الرحمن الرحيم

الحبيب علي بن جعفر العيدروس في باتو فاهت ماﻻيزيا

” ْقال الحبيب علي :   ” اَلْحُسْنُ ظَنْ مِنَ اْﻹِمَان

Al-Habib Ali bin Jafar Al-Aydrus di batu pahat Malaysia Berkata :

” Husnudhon ( berbaik sangka ) adalah bagian drp Iman “.

Al-Habib Ali bin Ja’far Al Aydrus ( Ulama’ besar yg dekat dg الله dan رسول الله di zaman nya )

We love Al-Wafa

الله lah Sang Penentu

بسم الله الرحمن الرحيم

ْإِلْزَمْ بَابَ رَبَكْ، وَاتْرُكْ كُلَ دُون
ْوَاسْأَلْهُ السَلَامَهْ، مِنْ دَارِ الفُتُون
ْﻻ يَضِيْقَ صَدْرُكْ، فَالحَادِثْ يَهُوْنََ
ْالله المُقَدِرْ، وَالعَالَمْ شُؤُون
(ْﻻَيَكْثُرُ هَمُكْ    مَاقُدِرْيَكُونَ)

الحبيب عبدالله بن علوي الحداد

 

Lazimkanlah dirimu di pintu Tuhanmu, tinggalkanlah segala kerisauan
Mohonlah Keselamatan, dari rumah fitnah (Dunia)
Jangan kau sempitkan dadamu, apapun yang terjadi akan segera hilang (Lewat)
ALLAH-Lah Sang Penentu, dan Alam berjalan dg keadaannya
( Jangan kau perbanyak kegalauanmu, apa yg ditentukan-Nya pasti terjadi)

Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad

 

We Love Al-Wafa’

4 Tingkat hadapi musibah

بسم الله الرحمن الرحيم

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah menyebutkan 4 tingkatan manusia dalam menghadapi musibah, mulai dari yang terendah sampai yang tertiggi:

  1. Marah,    Baginya dosa yang besar.

  2. Sabar,     Dia telah selamat dari dosa dan mendapatkan pahala karena kesabarannya.

  3. Ridha,    thdp musibah yang menimpa Dia mendapatkan pahala tambahan yang jauh lebih besar daripada                 pahala kesabaran.

  4. Syukur,   Inilah jenjang tertinggi dalam menghadapi musibah.

 

الحمد الله على كل حال

Segala puji bagi الله atas setiap keadaan

We Love Al-Wafa’

Hormati Islam-mu

بسم الله الرحمن الرحيم

1953 Saida junub lubnan pada saat itu lg merayakan maulid nabi yg mana mereka rayakan turun temurun, mereka mmpunyai adat menembakan senjata ke atas untuk menunjukan kegembiraan mrk.
Pda saat itu seorang anak nasrani dr keluarga ghatas yg terkenal, asyik melihat & tnp sadar sebuah peluru menembus kepalany.
Anak itu jth bersimbah darah, ibuny yg melihat berteriak histeris mlht anakny, lalu di larikan
ke RS. GHASAN HAMUD tp rmh skt angkat tangan, anak itu di larikan ke RS. AMERIKA dimana para ahli tim dokter milihat anak yg tak sadar lg itu & mereka angkat tangan.
Sementara itu ibu sang anak berteriak dgn kerasnya sambil berseru: Di manakah engakau hay MUHAMMAD yg mengaku sebagai Nabi, lihatlah apa yg di bikin umatmu kepada anak ku karna merayakan hari kelahiranmu..
Ketika itu keluar para dktr untk menyuruh si ibu melihat anakny utk terakhir kali, si ibu nasrani lemas masuk ke kamar sang anak &para dktr pun keluar semua.
Si ibu melangkahkan kakiny masuk ke kmr tapi apa yg di lihatny?? Anakny duduk di tepi tmpt tidur smbil berteriak: Tutup pintu &jendela ibu, jangan ksh dia keluar..
Si ibu melangkah melihat anaknya begitu sehat tak ada darah, anaku apa yg terjadi?
Ibu…
Dia datang mengelus kepalaku smbl tersenyum.
Siapa syg?
MUHAMMAD..
Ternyata teriakan ibu di sambut olehnya (MUHAMMAD).
Berkumpulah semua dktr melihat kenyatan di hadapan mrk..
Maka ibu, anak & semua dokter nasrani saat itu jg mengucapkan dua kalimah syahadat MASUK ISLAM…
Ini kejadian nyata, menunjukan keagungan-Nya

 

محَمد رَسول اللّه …..آللّهُمَ صَلّیۓِ ۈسَلّمْ عَلۓِ سَيّدنَآ مُحَمّدْ وَ عَلۓِ آلِ سَيّدنَآ مُحَمَّدٍ..

— Jgn sia-sia kan ISLAM mu—

 

We Love Al-Wafa’

Penghuni Surga

بسم الله الرحمن الرحيم

Suatu ketika Nabi Muhammad saw. duduk di masjid dan berbincang bincang dengan sahabatnya. Tiba-tiba beliau bersabda: “Sebentar lagi seorang penghuni surga akan masuk kemari.” Semua mata pun tertuju ke pintu masjid dan pikiran para hadirin membayangkan seorang yang luar biasa. “Penghuni surga, penghuni surga,” demikian gumam mereka.

Beberapa saat kemudian masuklah seorang dengan air wudhu yang masih membasahi wajahnya dan dengan tangan menjinjing sepasang alas kaki. Apa gerangan keistimewaan orang itu sehingga mendapat jaminan surga? Tidak seorang pun yang berani bertanya walau seluruh hadirin merindukan jawabannya.
Keesokan harinya peristiwa di atas terulang kembali. Ucapan Nabi dan “si penghuni” surga dengan keadaan yang sama semuanya terulang, bahkan pada hari ketiga pun terjadi hal yang demikian.
Abdullah ibnu ‘Amr tidak tahan lagi, meskipun ia tidak berani bertanya dan khawatir jangan sampai ia mendapat jawaban yang tidak memuaskannya. Maka timbullah sesuatu dalam benaknya. Dia mendatangi si penghuni surga sambil berkata: “Saudara, telah terjadi kesalahpahaman antara aku dan orang-tuaku, dapatkah aku menumpang di rumah Anda selama tiga hari?
Tentu, tentu…,” jawab si penghuni surga.”
Rupanya, Abdullah bermaksud melihat secara langsung “amalan” si penghuni surga.
Tiga hari tiga malam ia memperhatikan, mengamati bahkan mengintip si penghuni surga, tetapi tidak ada sesuatu pun yang istimewa. Tidak ada ibadah khusus yang dilakukan si penghuni surga. Tidak ada shalat malam, tidak pula puasa sunnah. Ia bahkan tidur dengan nyenyaknya hingga beberapa saat sebelum fajar. Memang sesekali ia terbangun dan ketika itu terdengar ia menyebut nama Allah di pembaringannya, tetapi sejenak saja dan tidurnya pun berlanjut.
Pada siang hari si penghuni surga bekerja dengan tekun. Ia ke pasar, sebagaimana halnya semua orang yang ke pasar. “Pasti ada sesuatu yang disembunyikan atau yang tak sempat kulihat Aku harus berterus terang kepadanya,” demikian pikir Abdullah.
“Apakah yang Anda perbuat sehingga Anda mendapat jaminan surga?” tanya Abdullah.
Apa yang Anda lihat itulah!” jawab si penghuni surga.
Dengan kecewa Abdullah bermaksud kembali saja ke rumah, tetapi tiba-tiba tangannya dipegang oleh si penghuni surga seraya berkata: “Apa yang Anda lihat itulah yang saya lakukan, ditambah sedikit lagi, yaitu saya tidak pernah merasa iri hati terhadap seseorang yang dianugerahi nikmat oleh Tuhan. Tidak pernah pula saya melakukan penipuan dalam segala aktivitas saya.
Dengan menundukkan kepala Abdullah meninggalkan si penghuni surga sambil berkata: “Rupanya, yang demikian itulah yang menjadikan Anda mendapat jaminan surga.
(disadur dari buku Faidh Al-Nubuwwah.)

 

  WE Love Al-Wafa’

Keutamaan Guru

بسم الله الرحمن الرحيم

 

Pernah suatu ketika Habib Umar Bin Abdurrahman Al’Athos (Penyusun Ratib Al’Athos) sedang duduk bersama para santrinya dan ada satu santri yang bernama Syekh Ali Baros sedang duduk disamping beliau sambil memijit kaki beliau.Beliau terdiam sesaat dan berkata kepada santrinya:

“Kita kedatangan tamu istimewa Nabi Khidir dan sekarang beliau sudah berada di gerbang depan”.Berhamburanlah ke gerbang depan semua santrinya menyambut kehadiran Nabi Khidir kecuali Syekh Ali Baros.

Habib Umar bertanya kepada Syekh Ali: “Yaa Ali, kenapa kau tidak menyambut Nabi Khidir bersama santri yang  lain..??”Lalu dijawab oleh Syekh Ali: “Wahai guruku, Nabi Khidir datang sengaja menemuimu, untuk apa aku lepaskan tanganku dari kakimu karena kedudukanmu yaitu guru dimataku sebagai murid jauh lebih mulia dibandingkan Nabi Khidir”.

Mendengar jawaban dari muridnya seperti itu, lalu berucaplah Habib Umar: “Tidak akan kuterima hadiah fatihah dari siapapun kepadaku kecuali disertai dengan nama Syekh Ali Baros bukti keridhoanku kepadanya”.Dengan keridhoan guru, Syekh Ali Baros yang berguru puluhan tahun kepada Habib Umar dengan berkhidmat mengabdi bisa menjadi ulama besar yang manfaat.

Kemuliaan guru seperti orangtua kita. Rahasia dunia ada di kedua orangtua dan rahasia akhirat ada di guru.

ْلَوْ لَا المُرَبِىْ مَا اَرَفْتُ رَبِى

( Jika bukan karena pendidik (Guru), maka aku tidak akan mengenal Tuhanku…).

We Love Al-Wafa’